Ruri menggenggam erat sebuah kantung berwarna kuning merah dengn tangan kirinya.
”Bagi dengan teman-temanmu ya, Nak.” Pesan Bunda, sebelum Ruri berangkat ke sekolah pagi ini.
Ruri mengangguk, tapi hatinya gelisah. ”Permen coklat oleh-oleh papa dari luar negeri ini terlalu enak untuk kubagi dengan teman-temanku!” Gerutunya dalam hati.
Sesampainya di ruang kelas 2A, ruang belajar Ruri, cepat-cepat dia memasukan bungkusan permen coklat itu ke dalam laci mejanya.
”Untung teman-teman belum banyak yang datang.” Kata Ruri dengan perasaan lega. ”Tidak sabar rasanya aku menunggu jam istirahat untuk memakan semua permen coklat ini.”
Saat bu Nunik, Guru Bahasa Indonesia Ruri sedang menjelaskan di depan kelas, Ruri semakin tidak berkonsentrasi. Di kepalanya hanya ada permen coklat.
Diam-diam Ruri meraba-raba isi lacinya, membuka bungkusan permen coklat, lalu mengambil sebutir permen coklat.
Mata Ruri melirik ke kiri dan ke kanan, takut ada teman sekelasnya yang melihat lalu melaporkan Ruri pada ibu Guru.
”Aman. Untung mejaku ada di bagian belakang.” Kata Ruri dalam hati, lalu, ”Hap!” Cepat-cepat Ruri memasukkan permen coklat itu ke dalam mulutnya.
”Wah, enak sekali!” Ruri sangat gembira. ”Ini permen coklat paling enak di dunia!”
Saat permen coklat di mulutnya habis, Ruri kembali meraba laci mejanya untuk mengambil permen coklat yang kedua.
”Nyam…nyam…” Ruri semakin bersemangat, apalagi tidak ada satupun teman-teman sekelasnya yang menyadari bahwa Ruri sedang makan di dalam kelas.
Tidak terasa, permen coklat di dalam kantong itu sudah habis, tepat saat lonceng tanda waktu istirahat berbunyi. Perut Ruri kenyang sekali
Setelah bu Guru mengucapkan salam, teman-teman Ruri berlarian ke luar kelas dengan riang gembira.
”Mau ikut bermain dengan kami, Ruri?” Tanya Amanda dan Dede, teman sekelas Ruri.
Ruri menggeleng lemah.
”Kamu sakit, Ruri?” Dede khawatir melihat wajah Ruri yang pucat
”Perutku sakit.” jawab Ruri sambil memegangi perutnya yang melilit.
Cepat-cepat Dede dan Amanda pergi ke ruang guru untuk mencari pak Bagus, wali kelas mereka.
Setelah membawa Ruri ke ruang UKS, pak Bagus menelepon mama Ruri di Rumah agar menjemput Ruri.
”Kenapa kamu, Nak?” Tanya mama Ruri dengan wajah panik.
Ruri masih memegangi perutnya yang sakit. ”Perut Ruri, Ma…” Katanya sambil merintih. ”Sakit sekali…”
Mama ikut memegangi perut Ruri yang sakit. ”Kamu jajan sembarangan ya, Nak?”
Ruri menggeleng.
”Kenapa tiba-tiba jadi sakit begini?” Tanya mama. ”Jangan bohong, Ruri. Tadi kamu makan apa?” Desak mama.
”Permen coklat oleh-oleh dari papa, Ma.” Jawab Ruri takut-takut.
”Mama, papa, dan kakakmu juga makan permen itu, tapi kami tidak sakit perut.” Kata mama dengan heran.
”Ruri makan semuanya, Ma…”
”Haaa…? Semuanya?!”
Ruri mengangguk. ”Ruri kapok, Ma. Tidak mau makan permen coklat banyak-banyak lagi.”
”Mama kan menyuruhmu untuk berbagi permen coklat itu dengan teman-temanmu…”
Ruri mengangguk malu, karena Dede dan Amanda juga berada di dalam Ruang UKS untuk menemani Ruri.
”Makanya, jangan pelit, Ruri!” Kata Amanda dan Dede bersamaan.
Written by Christina Mega
