Kevin adalah anak tunggal kesayangan mama dan papa. Kakek dan nenekpun sangat menyayangi Kevin, karena dialah satu-satunya cucu kakek dan nenek yang tinggal paling dekat dengan mereka.
Suatu hari, mama memberitahu Kevin bahwa sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik.
”Kevin sekarang sudah besar. Bulan depan umur Kevin 6 tahun. Sudah waktunya Kevin membantu mama dan papa untuk mengurus adik bayi.” Kata mama pada Kevin.
Kevin bingung. ”Adik bayi, Ma?”
Mama mengangguk sambil tersenyum. ”Iya, Sayang. Beberapa bulan lagi Kevin akan memiliki adik.” Mama mengelus perutnya dengan lembut.
Kevin teringat Danu, teman sekelas Kevin di sekolah.
”Mama sibuk mengurus adik. Karena itu mama jadi jarang mengantar dan menjemputku di sekolah.” Kata Danu dengan wajah sedih. ”Papa juga jadi jarang bermain bola denganku setiap sore, padahal dulu papa paling senang bermain bola denganku di taman.”
Kevin ketakutan. Dia tidak ingin papa dan mama lebih sayang pada adik bayi dibandingkan dirinya.
Kevinpun berubah menjadi anak yang pemurung. Dia jarang tertawa dan tidak seceria biasanya.
Papa heran melihat perubahan sikap Kevin.
”Ada apa, Kevin?” Tanya papa yang baru pulang dari kantor.
Kevin diam saja.
”Kevin sakit?” Tanya mama cemas.
Kevin menggeleng.
Mama sedih melihat Kevin. ”Lalu kenapa seharian ini kamu diam saja? Tidak mau makan dan bicara sama mama.”
Kevin tetap diam saja.
Keesokan harinya Kevin berangkat ke sekolah dengan hati yang sedih, diapun enggan bermain dengan teman-temannya.
Saat bu Asti, guru bahasa Indonesia Kevin, mengatakan bahwa dia akan membacakan sebuah cerita, sedikitpun dia tidak gembira. Padahal biasanya Kevin paling senang mendengarkan bu Asti bercerita.
Walau tidak bersemangat, Kevin tetap mendengarkan cerita ibu Asti.
Bu Asti bercerita tentang seorang anak bernama Dian.
Dian adalah anak yang lemah dan sering sekali jatuh sakit, Karena itu Dian jarang bermain dengan teman-temannya, dan lebih sering bermain di dalam rumah bersama mama dan Bik Rasmi, pengasuh Dian.
Sering kali Dian merasa kesepian karena dia tidak memiliki adik atau kakak untuk diajak bermain.
”Seandainya aku punya adik, pasti aku tidak akan kesepian lagi.” Kata Dian dalam hati.
Dan pada suatu hari, mama dan papa Dian memberitahu bahwa sebentar lagi Dian akan memiliki seorang adik.
Dian bahagia sekali. Dia jadi lebih bersemangat dan ceria.
Mama dan papa juga bahagia melihat perubahan Dian yang semakin kuat dan jarang sakit.
”Tidak sabar rasanya menunggu adik bayi lahir.” Kata Dian pada mama.
”Beberapa bulan lagi, Sayang.” Jawab mama. ”Mama yakin Dian akan menjadi kakak yang sangat baik dan penyayang.”
Beberapa bulan kemudian adik Dian lahir. Papa dan mama memberinya nama Eva.
Dian senang sekali mengelus dan mencium adik bayi yang wangi dan lucu. Dian juga sering membantu mama mengganti popok adik bayi dan memandikannya.
Mama dan papa bangga sekali pada Dian. Dan tidak sedikitpun perhatian mama dan papa pada Dian berkurang.
Saat bu Asti selesai bercerita, Kevin teringat pada mama di rumah. Kevin menyesal karena membuat mama dan papanya sedih.
Kevin berjanji, sepulang sekolah nanti, dia akan meminta maaf pada mama dan papanya. Kevin juga bertekad akan menjadi kakak yang baik buat adiknya nanti.
Written by Christina Mega
