Pagi hari adalah saat yang paling menjengkelkan bagi mama Lulu. Beliau harus selalu membangunkan Lulu yang terkenal paling susah bangun pagi.
”Lulu, ayo bangun. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” Kata mama, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lulu supaya dia mau bangun.
Lulu hanya membuka matanya sebentar, kemudian tidur lagi.
Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai-sampai mama harus menyuruh bik Ijah dan Papa Lulu untuk ikut membangunkannya. Lama-lama mama dan papa jadi kesal pada Lulu.
Lulu sudah kelas 3 SD, tapi untuk bangun pagi saja, dia harus terus merepotkan orang lain.
Saat sarapanpun mama harus buru-buru menyuapi Lulu, dan bik Ijah yang memakaikan sepatunya supaya Lulu tidak terlambat ke sekolah.
”Apa yang harus aku lakukan supaya Lulu tidak malas lagi bangun pagi?” Tanya mama pada dirinya sendiri. ”Aku harus mencari akal.” Kata mama.
Keesokan paginya, seperti biasa Lulu terlambat bangun pagi. Tapi anehnya, tidak ada yang membangunkan Lulu hari itu.
Tiba-tiba Lulu terbangun oleh suara alarm jam yang ada di sebelah tempat tidurnya. Suaranya nyaring sekali, sampai-sampai Lulu melompat dari tempat tidurnya karena kaget.
”Hah, jam siapa ini?” Tanya Lulu heran. Tapi tiba-tiba dia sadar, jam beralarm itu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. ”Aku bisa terlambat ke sekolah!” Kata Lulu panik. Diapun berteriak memanggil mama, bik Ijah, dan Papa, tapi tak seorangpun di rumah itu dia temui.
Lulu terus memanggil-manggil mama, tapi mama tidak datang-datang.
Cepat-cepat Lulu pergi ke garasi. Ternyata mobil papa sudah tidak ada, yang berarti papa sudah pergi ke kantor. Tapi kenapa papa tidak mengantar Lulu seperti biasanya?
Lulupun mencari mama dan bik Ijah di dapur, di kamar dan di halaman, tetapi Lulu tetap tidak menemukan mereka.
Sambil menangis, Lulu masuk ke kamar mandi. Dia hanya punya waktu sedikit untuk mandi dan berganti baju.
Ingin rasanya Lulu tidak masuk sekolah hari ini, tetapi Lulu ingat, hari ini ada ulangan matematika, dan dia tidak boleh membolos.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.20 tepat saat Lulu sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
”Aku cuma punya waktu 10 menit untuk sampai ke sekolah.” Lulu sedih sekali karena tidak ada yang membangunkan dan menyiapkan sarapan untuknya hari itu.
Sebenarnya jarak rumah Lulu menuju sekolah tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 kilometer. Tapi karena di kompleks perumahan Lulu tidak ada angkutan umum, Lulu terpaksa pergi ke sekolah hari itu dengan berjalan kaki.
Baju Lulu mulai basah oleh keringat. ”Kalau hanya berjalan saja, aku akan terlambat.” Kata Lulu pada dirinya sendiri. Lulupun memutuskan utnuk berlari menuju sekolah.
Nafas Lulu terengah-engah. Dia lelah sekali. Biasanya dia hanya perlu duduk di dalam mobil papa yang dingin sambil mendengarkan musik, dan sampai di sekolah tepat pada waktunya.
”Aku terlambat…” Lulu melihat gerbang sekolah yang sudah dikunci dari dalam oleh pak Satpam.
”Pak, tolong buka gerbangnya…” Pinta Lulu pada pak Kadiman, satpam sekolah.
Pak Kadiman mendekati Lulu dari balik pagar. ”Lho, neng Lulu kok terlambat?” Tanyanya heran.
Lulu terisak-isak sambil mengelap keringatnya. ”Iya, Pak….Lulu terlambat bangun…” Jawab Lulu.” Lulupun bercerita tentang keadaan rumah yang kosong saat Lulu bangun tadi pagi.
Pak Kadiman menggeleng-geleng. ”Neng Lulu kan sudah besar, tidak perlu lagi minta bantuan mama untuk membangunkan Lulu.”
Lulu mengangguk-ngangguk malu.
Siang harinya, saat sampai di rumah, Lulu melihat mama sedang duduk di ruang keluarga.
”Maafkan Lulu, Ma. Mulai besok, Lulu janji akan bangun pagi.” Lulu memeluk mamanya.
Mama tersenyum sambil mengelus-ngelus rambut Lulu.
”Itu baru anak mama dan papa.” Kata mama sambil mencium Lulu dengan sayang.
Written by christina Mega
